Lorong Sunyi di Desa Ranting Hitam

 


Di sebuah pelosok Indonesia yang jarang tersentuh peta modern, terdapat sebuah desa kecil bernama Ranting Hitam. Desa ini dikelilingi hutan lebat, jalan tanah merah, dan kabut yang hampir tak pernah benar-benar hilang, bahkan di siang hari. Orang-orang di kota sekitar sering menyebut desa itu sebagai “tempat yang tidak pernah selesai senja.”

Namun bagi warga setempat, Ranting Hitam adalah rumah yang tenang—asal satu aturan sederhana tidak dilanggar: jangan pernah melewati lorong tua di ujung desa setelah matahari terbenam.

Lorong itu sebenarnya tidak memiliki nama resmi. Warga hanya menyebutnya “Lorong Sunyi.” Jalan sempit berbatu, diapit pohon beringin tua yang akar-akarnya menjuntai seperti tangan-tangan kurus. Di siang hari, lorong itu tampak biasa saja. Tapi saat malam tiba, suasananya berubah drastis—udara menjadi lebih berat, suara jangkrik mendadak hilang, dan angin seperti berhenti bernapas.

Konon, lorong itu adalah batas antara dunia yang terlihat dan sesuatu yang “lain.”

Semua bermula ketika seorang pemuda bernama Raka datang ke desa itu untuk meneliti cerita-cerita lokal. Ia mahasiswa antropologi dari kota besar, skeptis terhadap hal-hal mistis. Baginya, cerita hantu hanya bagian dari budaya lisan yang dilebih-lebihkan.

Penduduk desa sudah memperingatkannya.

“Jangan lewat Lorong Sunyi malam-malam,” kata seorang tua di warung kopi. “Di situ bukan tempat manusia.”

Raka hanya tersenyum kecil, mencatat dalam buku kecilnya. “Saya akan membuktikan kalau itu hanya sugesti.”

Malam itu, hujan baru saja reda. Kabut turun lebih tebal dari biasanya. Jam menunjukkan pukul 11 malam ketika Raka keluar dari penginapannya. Dengan senter kecil di tangan dan kamera di ransel, ia berjalan menuju Lorong Sunyi.

Awalnya semua terasa normal. Suara langkahnya sendiri di tanah basah terdengar jelas. Pohon-pohon tinggi berdiri diam, seperti mengawasi. Namun semakin ia masuk ke lorong, udara mulai berubah. Senter di tangannya sesekali berkedip, meski baterainya penuh.

Lalu ia mendengar suara.

Pelan. Seperti seseorang berbisik di antara daun.

Raka berhenti.

“Siapa di sana?” tanyanya.

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang terlalu sempurna.

Ia melanjutkan langkah. Dan di titik tengah lorong, ia melihat sesuatu yang membuat dadanya menegang.

Ada seorang perempuan berdiri di bawah pohon beringin. Rambutnya panjang, pakaiannya putih lusuh, dan wajahnya tertunduk.

“Permisi, Bu… ini jalan ke desa?” tanya Raka hati-hati.

Perempuan itu tidak menjawab. Hanya menunjuk ke arah dalam lorong.

Ketika Raka mendekat satu langkah, perempuan itu tiba-tiba menghilang.

Senter Raka jatuh redup. Napasnya mulai tidak teratur. Ia merasa ada sesuatu yang salah—bukan sekadar takut, tapi seperti kenyataan di sekitarnya mulai melengkung.

Dan kemudian suara itu datang lagi.

Bukan bisikan kali ini. Tapi suara langkah.

Banyak.

Dari belakangnya.

Raka berbalik cepat.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun tanah di bawah kakinya kini terasa lebih dingin, seperti baru saja dilewati ratusan orang tanpa jejak.

Ia mulai berjalan cepat. Lalu berlari.

Lorong itu tidak pernah terasa panjang sebelumnya, tapi sekarang seperti tidak ada ujungnya. Pohon-pohon di kanan kiri tampak bergerak sedikit, meski angin tidak bertiup.

Sampai akhirnya ia melihat sesuatu yang mustahil.

Desa.

Tapi bukan Ranting Hitam yang ia kenal.

Rumah-rumahnya gelap total, jendela terbuka tanpa cahaya, dan tidak ada suara ayam, anjing, atau manusia. Hanya keheningan yang terlalu dalam.

Di tengah desa, ia melihat dirinya sendiri.

Raka lain.

Berdiri diam, menatap ke arahnya.

Raka yang asli membeku.

“Ini… tidak mungkin,” bisiknya.

Sosok itu perlahan mengangkat kepala. Matanya kosong. Mulutnya tersenyum, tapi tidak alami—seperti seseorang yang lupa cara menjadi manusia.

Lalu sosok itu berkata, dengan suara yang sama persis seperti Raka:

“Kamu sudah terlambat keluar dari lorong.”

Tiba-tiba semua lampu senter padam.

Gelap total.

Raka merasakan sesuatu menarik kakinya. Tanah di bawahnya seperti berubah menjadi lumpur hidup, menyeretnya perlahan ke bawah.

Ia berteriak, tapi suaranya tidak keluar.

Dalam sepersekian detik terakhir, ia melihat Lorong Sunyi kembali seperti semula—tenang, diam, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Dan desa Ranting Hitam kembali sunyi.

Keesokan paginya, warga menemukan ransel Raka di mulut lorong. Kamera di dalamnya masih menyala, tapi semua file video hanya berisi satu hal: rekaman hitam dengan suara napas yang semakin lama semakin pelan… lalu berhenti.

Sejak saat itu, tidak ada lagi peneliti yang berani datang ke Ranting Hitam.

Dan Lorong Sunyi tetap berdiri.

Menunggu siapa pun yang masih menganggap rasa takut hanyalah cerita.

LihatTutupKomentar