Kalau lo pikir semua kampung di Indonesia itu adem, tenang, dan penuh suara jangkrik yang bikin ngantuk, berarti lo belum pernah dengar cerita tentang Kampung Lereng Merah. Sebuah tempat yang kalau malam datang, suasananya langsung berubah 180 derajat. Bukan lagi sepi yang damai, tapi sepi yang… hidup.
Gue ceritain ini dari seorang temen lama, namanya Raka. Dia orang yang skeptis banget soal hal mistis. Katanya, “hantu itu cuma sugesti orang capek.” Tapi semua berubah waktu dia kerja proyek di daerah pegunungan Jawa Tengah, tepatnya di kampung yang orang lokal aja sebisa mungkin gak mau lewat kalau udah jam 6 sore.
Hari pertama Raka datang, dia ngerasa biasa aja. Kampungnya sejuk, rumah-rumah kayu berdiri rapih, dan warga masih ramah-ramah. Tapi ada satu hal yang bikin dia heran: semua orang selalu bilang, “Jangan keluar rumah kalau malam, apalagi kalau denger suara gamelan dari bukit.”
Raka cuma ketawa. “Gamelan? Emang ada hajatan tengah hutan?”
Orang-orang cuma diam. Senyum mereka… aneh. Kayak nyimpen sesuatu tapi gak mau bilang.
Malam pertama, semuanya masih normal. Tapi jam lewat tengah malam, Raka mulai denger suara pelan dari kejauhan. Kayak tabuhan gamelan. Lirih, pelan banget, tapi ritmis. Awalnya dia pikir itu cuma ilusi atau suara dari radio warga.
Tapi makin lama, suara itu makin jelas.
“ting… ting… klung… ting…”
Raka bangun, buka jendela. Dingin langsung nyerbu. Dari kejauhan, di arah bukit belakang kampung, ada cahaya redup. Kayak obor… banyak banget.
Dia nanya ke penjaga proyek besok paginya. Tapi si penjaga cuma pucat.
“Lo denger ya?”
“Denger apa?”
“Udah… jangan diterusin. Malam ini jangan keluar.”
Tapi Raka makin penasaran. Karena rasa skeptisnya lebih gede daripada rasa takutnya.
Malam kedua, dia sengaja begadang. Jam 11 malam, suara itu muncul lagi. Kali ini lebih dekat. Gamelannya gak cuma satu, tapi kayak satu set lengkap. Ada bonang, gong, kenong… tapi anehnya, semuanya gak pernah terdengar sempurna. Kayak dimainkan sama orang yang… gak sepenuhnya manusia.
Jam 1 malam, Raka gak tahan lagi. Dia keluar diam-diam. Senter di tangan, langkah pelan.
Udara makin dingin. Kabut turun pelan dari bukit. Dan suara gamelan itu… makin keras.
Sampai akhirnya dia sampai di pinggir hutan.
Dan di situlah dia lihatnya.
Ada rombongan panjang. Orang-orang berpakaian Jawa kuno, bawa gamelan lengkap, jalan pelan turun dari bukit. Tapi wajah mereka… kosong. Putih. Kayak lilin meleleh. Mata mereka gak semua kelihatan hidup.
Dan yang paling bikin Raka hampir jatuh: mereka semua jalan tanpa suara langkah. Gamelannya yang bunyi… tapi gak ada tangan yang benar-benar memukul.
Di tengah rombongan itu, ada satu sosok duduk di tandu. Tinggi, dibalut kain merah tua. Tapi dari balik kain itu, terdengar suara napas berat… kayak sesuatu yang sudah lama mati tapi masih “dipaksa” hidup.
Raka mundur pelan. Tapi kakinya nyangkut akar pohon. “Krak!”
Semua rombongan itu berhenti.
Pelan-pelan… kepala mereka muter ke arah Raka.
Dan dalam sepersekian detik, suara gamelan berhenti total.
Sunyi.
Lalu satu suara berat terdengar dari tandu itu.
“Sudah ada yang lihat kita…”
Raka langsung lari. Gila. Dia lari tanpa lihat belakang. Tapi anehnya, meskipun dia lari jauh ke kampung, suara gamelan itu tetap ngikutin. Bukan dari belakang… tapi dari dalam kepalanya.
Besoknya, Raka ditemukan di depan rumah dalam keadaan pingsan. Badannya dingin. Matanya terbuka tapi kosong.
Dia gak pernah benar-benar pulih setelah itu.
Dan ini bagian yang paling bikin merinding…
Setiap malam di kampung itu setelah kejadian, warga bilang gamelan dari bukit itu jadi lebih dekat. Bahkan kadang ada yang lihat rombongan itu sudah masuk ke batas kampung.
Dan Raka?
Dia sekarang cuma duduk di beranda setiap malam, ngeliatin bukit, sambil bisik-bisik sendiri:
“Mereka udah sampai mana sekarang…”
Orang-orang kampung bilang, dia bukan lagi Raka yang dulu. Karena kalau lo sudah “melihat rombongan Lereng Merah”, lo gak pernah benar-benar kembali jadi manusia biasa.
Dan kalau malam ini lo kebetulan lagi di daerah pegunungan… terus lo denger suara gamelan pelan dari jauh…
Jangan dicari.