Di sebuah daerah terpencil di Indonesia, terdapat sebuah hutan yang dikenal warga sekitar dengan nama Alas Kramat. Hutan ini sudah lama menjadi bahan perbincangan karena berbagai kisah misteri yang beredar dari generasi ke generasi. Banyak orang menganggap cerita tersebut hanya mitos untuk menakut-nakuti anak-anak. Namun, bagi mereka yang pernah mengalaminya secara langsung, Alas Kramat menyimpan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Kisah ini bermula pada tahun 2018 ketika empat sahabat memutuskan melakukan perjalanan malam untuk membuat konten petualangan. Mereka adalah Dimas, Rian, Fajar, dan Yoga. Dengan membawa kamera serta perlengkapan sederhana, mereka berangkat menuju Alas Kramat setelah mendengar berbagai cerita mistis dari warga sekitar.
Sebelum masuk ke kawasan hutan, seorang kakek penjaga warung sempat memperingatkan mereka.
“Kalau dengar suara orang memanggil nama kalian dari dalam hutan, jangan pernah menjawab,” ucap sang kakek dengan wajah serius.
Mereka hanya tersenyum dan menganggap peringatan itu sebagai bagian dari cerita rakyat yang dilebih-lebihkan.
Sekitar pukul 10 malam, mereka mulai memasuki jalur setapak yang membelah lebatnya pepohonan. Suasana terasa sunyi. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada sinyal telepon, bahkan suara jangkrik yang biasanya terdengar di malam hari pun terasa sangat minim.
Awalnya perjalanan berjalan normal. Mereka merekam suasana hutan dan sesekali bercanda untuk menghilangkan rasa tegang. Namun setelah berjalan hampir satu jam, mereka menemukan sebuah rumah tua yang tampak sudah lama tidak dihuni.
Bangunan itu berdiri sendirian di tengah hutan.
Anehnya, salah satu jendelanya memancarkan cahaya redup berwarna kekuningan.
“Siapa yang tinggal di sini?” tanya Yoga.
Tidak ada yang bisa menjawab.
Karena penasaran, mereka mendekati rumah tersebut. Saat berada beberapa meter dari pintu utama, mereka mendengar suara perempuan tertawa pelan dari dalam rumah.
Suara itu terdengar jelas.
Mereka saling berpandangan.
Fajar yang dikenal paling berani mencoba membuka pintu rumah tersebut. Namun ketika pintu berhasil didorong, isi rumah tampak kosong dan dipenuhi debu tebal.
Tidak ada lampu.
Tidak ada penghuni.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Yang lebih aneh, suara tawa tadi tiba-tiba menghilang begitu saja.
Merasa mulai tidak nyaman, mereka memutuskan meninggalkan lokasi. Namun saat berjalan menjauh, Dimas tiba-tiba berhenti.
Ia mendengar seseorang memanggil namanya dari arah belakang.
“Dimas...”
Suaranya lembut dan sangat jelas.
Dimas hampir saja menoleh, tetapi teringat ucapan kakek penjaga warung. Dengan wajah pucat, ia memilih diam dan terus berjalan.
Beberapa menit kemudian, suara yang sama terdengar lagi.
“Dimas... tolong aku...”
Kali ini suara tersebut terdengar seperti suara ibunya sendiri.
Bulu kuduknya langsung berdiri.
Tanpa berkata apa pun, Dimas mempercepat langkah.
Masalah semakin besar ketika mereka menyadari jalur yang mereka lalui tidak kunjung membawa mereka keluar dari hutan. Padahal berdasarkan peta, perjalanan pulang seharusnya hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit.
Jam di tangan Rian menunjukkan pukul 01.15 dini hari.
Mereka sudah berjalan hampir tiga jam.
Namun pemandangan di depan mereka tetap sama.
Pohon-pohon besar.
Jalan setapak.
Dan kabut yang semakin tebal.
Ketakutan mulai menguasai kelompok tersebut.
Saat itulah kamera milik Yoga tiba-tiba mati sendiri.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah kaki dari balik pepohonan.
Bukan satu atau dua langkah.
Melainkan puluhan langkah yang bergerak mengelilingi mereka.
Suara itu semakin dekat.
Semakin cepat.
Namun tidak terlihat siapa pun di antara gelapnya hutan.
Rian memberanikan diri menyorotkan senter ke arah suara tersebut.
Yang terlihat membuat seluruh tubuh mereka membeku.
Di antara kabut, berdiri sosok tinggi kurus dengan wajah pucat. Matanya hitam pekat tanpa bola mata yang terlihat. Sosok itu hanya diam memandang mereka.
Lalu satu per satu sosok lain mulai muncul di belakangnya.
Jumlahnya semakin banyak.
Tanpa komando, keempat sahabat itu langsung berlari sekencang mungkin.
Mereka tidak peduli arah.
Mereka hanya ingin keluar dari tempat tersebut.
Di tengah kepanikan, Fajar terjatuh. Saat berusaha bangkit, ia mengaku melihat seorang perempuan berambut panjang berdiri tepat di depannya.
Wajah perempuan itu penuh luka dan tersenyum lebar hingga hampir menyentuh telinganya.
Fajar berteriak histeris.
Untungnya teman-temannya berhasil menariknya dan terus berlari.
Beberapa saat kemudian, mereka melihat cahaya dari kejauhan.
Dengan sisa tenaga yang ada, mereka menuju sumber cahaya tersebut.
Ternyata itu adalah warung milik kakek yang mereka temui sebelumnya.
Mereka berhasil keluar.
Namun ada satu hal yang membuat mereka semakin merinding.
Menurut sang kakek, saat itu waktu baru menunjukkan pukul 11 malam.
Padahal jam tangan mereka menunjukkan hampir pukul 3 pagi.
Empat jam seolah hilang tanpa jejak.
Hingga kini, mereka masih tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Alas Kramat malam itu. Rekaman kamera yang berhasil diselamatkan juga menyimpan keanehan. Dalam salah satu video, terlihat sosok perempuan berdiri jauh di belakang mereka selama beberapa menit.
Padahal saat pengambilan gambar, tidak ada siapa pun di lokasi tersebut.
Sejak kejadian itu, mereka tidak pernah lagi kembali ke Alas Kramat.
Dan hingga hari ini, warga sekitar masih percaya bahwa ada penghuni tak kasat mata yang menjaga hutan tersebut.
Jika suatu malam kamu melewati hutan yang sunyi dan mendengar seseorang memanggil namamu dari kegelapan, mungkin ada baiknya untuk terus berjalan dan tidak menoleh.