Di pelosok Indonesia, ada satu tempat yang jarang banget muncul di peta—Desa Lenggang. Sekilas nggak ada yang aneh. Siang hari, desa ini kelihatan damai: anak-anak main di lapangan, ibu-ibu ngobrol di depan rumah, dan suara ayam jadi alarm alami tiap pagi.
Tapi masalahnya cuma satu…
Desa ini cuma “normal” sampai matahari tenggelam.
Orang luar yang pernah nginep di sana selalu bilang hal yang sama:
“Jangan pernah keluar setelah jam 8 malam, apalagi kalau dengar suara dari hutan.”
Awalnya dianggap cuma mitos desa biar orang nggak keluyuran. Tapi Rian, seorang mahasiswa yang lagi penelitian budaya lokal, malah sengaja datang buat ngebuktiin semuanya.
Hari Pertama: Semua Terlihat Biasa
Rian datang sore hari. Disambut warga dengan ramah, bahkan terlalu ramah sampai terasa aneh. Semua orang senyum, tapi nggak ada yang mau bahas hutan di belakang desa itu.
“Jangan dekat-dekat sana ya,” kata seorang bapak tua.
“Kenapa?” tanya Rian.
Bapak itu cuma jawab pendek, “Soalnya dia suka kalau ada yang dengerin.”
Siapa “dia”? Nggak ada yang jelasin.
Malam pertama, Rian tetap nekat keluar buat ambil foto. Jam baru lewat 8 malam, suasana langsung berubah. Angin jadi dingin banget, dan hutan di belakang desa mulai “hidup”.
Dari jauh, terdengar suara panggilan pelan.
“Ri… an…”
Rian berhenti. Dia pikir itu cuma halusinasi. Tapi suara itu makin jelas. Bukan cuma satu suara, tapi banyak… kayak bisikan yang numpuk jadi satu.
Malam Kedua: Hutan yang Memanggil Balik
Malam kedua, Rian makin penasaran. Dia bawa senter dan masuk sedikit ke arah hutan. Katanya sih cuma “lihat dari dekat”.
Tapi makin dia jalan, suara itu nggak berhenti. Bahkan sekarang terdengar kayak ada yang jalan di belakang dia.
CRACK…
daun patah.
Rian langsung muter badan. Kosong. Tapi jejak di tanah… ada banyak. Padahal dia sendirian.
Lalu dari dalam hutan, suara itu berubah. Bukan lagi manggil namanya, tapi sekarang kayak ketawa kecil. Pelan. Serak. Nggak manusiawi.
Dan di antara pohon… ada sesuatu berdiri.
Tinggi. Kurus. Nggak jelas bentuknya. Tapi matanya… atau sesuatu yang kayak mata… menatap langsung ke arah Rian.
Pagi yang Aneh: Desa yang Berkurang
Rian bangun keesokan harinya dengan tubuh lemas. Tapi ada yang aneh… desa terasa lebih sepi dari kemarin.
Beberapa rumah kosong. Warga yang kemarin menyapa, sekarang nggak ada. Seolah mereka nggak pernah ada.
Dia tanya ke satu orang yang tersisa.
“Ke mana semua orang?”
Orang itu cuma jawab sambil menunduk,
“Udah dipanggil.”
“Dipanggil siapa?”
Orang itu menunjuk hutan.
Tapi kali ini hutan itu kelihatan lebih dekat… padahal nggak mungkin bergerak.
Rahasia Desa Lenggang
Ternyata, Desa Lenggang bukan desa biasa. Dulu, desa ini berdiri di atas tanah yang “berisi sesuatu” dari dalam hutan. Sesuatu yang nggak suka sendirian.
Setiap malam, dia “memanggil balik” siapa pun yang berani mendengar.
Dan yang paling bahaya bukan yang masuk hutan…
tapi yang menjawab panggilan itu.
Akhir yang Nggak Pernah Selesai
Rian akhirnya hilang di malam ketiga. Kamera yang dia tinggalkan cuma merekam satu hal terakhir:
suara bisikan hutan… makin dekat…
lalu layar gelap.
Sampai sekarang, Desa Lenggang masih ada di peta kecil yang jarang orang lihat. Tapi warga sekitar selalu bilang:
“Kalau malam, jangan pernah jawab suara dari hutan.”
Karena kalau kamu jawab…
kamu bukan lagi pengunjung.