Angin danau berhembus pelan, tapi rasanya kayak ada yang bisik-bisik di kuping. Malam itu, jam sudah lewat tengah dua belas, dan kabut turun pelan menyelimuti tepian Danau Batur. Gue berdiri di perahu kayu kecil bareng Made—warga lokal yang mukanya tenang, tapi matanya kayak nyimpen rahasia yang nggak mau dibagi.
Tujuan kami cuma satu: nyebrang ke pemakaman unik di Desa Trunyan. Tempat di mana jenazah nggak dikubur, nggak dibakar, cuma “dititipin” di bawah pohon tua bernama Taru Menyan. Kata orang, pohon itu bikin bau kematian jadi hilang. Kedengerannya mistis? Iya. Tapi yang bikin merinding bukan itu.
Yang bikin merinding… adalah suasananya.
Perahu nabrak riak kecil. Duk. Duk. Duk. Suaranya mantul di permukaan danau yang gelap kayak tinta. Nggak ada suara hewan. Nggak ada jangkrik. Nggak ada apa-apa. Hening yang nggak wajar.
“Kalau dengar suara manggil, jangan jawab,” kata Made pelan.
Gue ketawa kecil, sok santai. “Emang ada yang manggil?”
Made nggak jawab. Dia cuma natap lurus ke depan.
Begitu nyampe, kami turun. Tanahnya lembap. Bau tanah basah kecampur wangi aneh—harum tapi bikin eneg. Di bawah pohon besar itu, gue lihat… tengkorak. Banyak. Disusun rapi di antara anyaman bambu. Sisa-sisa manusia yang udah jadi bagian dari waktu.
Tiba-tiba…
“Kriiiik…”
Suara bambu kegesek.
Gue nengok cepat. Nggak ada siapa-siapa.
“Angin,” kata Made singkat.
Tapi daun-daun nggak bergerak.
Kami jalan pelan menyusuri area itu. Senter gue nyorot ke satu anyaman bambu yang setengah terbuka. Di dalamnya masih ada kain kafan yang belum sepenuhnya hancur. Artinya, ini jenazah baru.
Dan di situlah gue denger pertama kali.
“Pulang…”
Pelan banget. Serak. Kayak suara orang habis nangis lama.
Gue refleks nengok ke Made. “Lo denger?”
Made berhenti jalan. Mukanya berubah.
“Denger apa?”
Seketika bulu kuduk gue berdiri. Itu bukan suara dari luar.
Itu dari kepala gue.
Kami mutusin buat balik. Tapi jalan yang tadi kami lewatin… rasanya beda. Pohonnya sama, jalurnya sama, tapi kayak muter-muter di tempat. Kabut makin tebal. Senter mulai redup.
“Kita salah arah,” bisik gue.
Made geleng pelan. “Di sini nggak ada yang namanya salah arah. Yang ada… kita nggak dikasih keluar.”
Jantung gue langsung ngebut.
Lalu suara itu lagi.
“Pulang…”
Sekarang lebih jelas. Lebih dekat.
Dan bukan cuma satu suara.
Banyak.
Dari segala arah.
Gue muter badan, nyorot sembarangan. Di sela-sela kabut, gue kayak lihat bayangan orang berdiri. Diam. Nggak gerak. Tinggi-tinggi. Kurus.
“Jangan lari!” bentak Made.
Tapi kaki gue udah reflek mundur. Tersandung akar. Jatuh.
Senter mental. Mati.
Gelap total.
Dalam gelap itu, gue ngerasa… ada yang jongkok di samping gue. Nafasnya dingin di telinga.
“Pulang…”
Gue merem melek, panik, nyari senter. Tangan gue nyentuh sesuatu yang keras dan bulat.
Tengkorak.
Gue teriak.
Made narik gue berdiri. Entah gimana, dia nemuin jalan keluar. Kami lari ke arah danau. Perahu masih ada. Syukur.
Begitu perahu menjauh dari darat, suara-suara itu hilang. Kabut pelan-pelan menipis.
Gue nengok ke belakang.
Di tepi hutan, gue lihat siluet orang berdiri berjajar.
Banyak.
Diam.
Ngelihatin.
Besok paginya, gue bangun di rumah Made. Katanya gue pingsan semalaman. Tapi yang bikin darah gue dingin…
Di saku jaket gue, ada serpihan kecil anyaman bambu dari pemakaman.
Dan bau harum itu… masih nempel.
Sampai sekarang.
Kadang kalau malam terlalu sunyi, gue masih denger bisikan itu.
Pelan.
Serak.
“Pulang…”