Misteri Bayangan di Ujung Jalan Tanah Merah: Teror yang Mengikuti Pulang

 

Di sebuah desa kecil di pesisir selatan Pulau Jawa, ada satu jalan tanah merah yang selalu dihindari warga setelah magrib. Bukan karena rusak. Bukan karena sepi. Tapi karena di ujung jalan itu… berdiri rumah tua yang seperti tidak pernah benar-benar kosong.

Rumah itu milik keluarga lama yang pindah puluhan tahun lalu. Katanya, mereka pergi bukan karena bangkrut, tapi karena sesuatu yang “ikut tinggal” di sana.

Gue pertama kali dengar cerita ini waktu mudik ke kampung nenek di Cilacap. Warga setempat nyebutnya “Rumah Tanah Merah”. Karena tiap hujan, halaman depannya berubah jadi lumpur merah pekat, seperti darah yang dicampur air.

Dan anehnya… lumpur itu nggak pernah kering.


Malam itu, gue dan dua sepupu gue, Raka dan Dimas, lagi nongkrong depan warung. Obrolan ngalor-ngidul, sampai ada bapak tua nyeletuk, “Kalau berani, coba ke Rumah Tanah Merah jam 12 malam.”

Namanya anak muda, ditantang dikit langsung panas. Rasa takut kalah sama rasa penasaran.

Jam 11.45, kami bertiga jalan ke sana. Bawa senter, rokok, dan modal nekat. Jalan tanah itu sunyi banget. Angin nggak ada. Suara jangkrik pun kayak mendadak bisu.

Semakin dekat, bulu kuduk mulai berdiri. Bukan karena lihat apa-apa, tapi karena suasananya… beda. Kayak masuk ke ruang yang udah lama nggak dihuni manusia.

Gerbang rumahnya setengah roboh. Halamannya benar kata warga — lumpur merah. Padahal seminggu ini nggak hujan.

Raka nyeletuk pelan, “Bro… ini tanah apa darah sih?”

Gue ketawa kaku. Dimas cuma diem.


Pintu rumah terbuka sedikit. Padahal angin nggak ada.

Kami masuk.

Bau di dalam rumah itu… campuran lembap, tanah basah, dan sesuatu yang amis. Senter kami nyorot dinding yang penuh bekas noda cokelat kehitaman. Kayak bekas air… tapi nggak wajar.

Tiba-tiba.

Krek…

Suara dari lantai atas.

Kami saling pandang.

“Lu denger?” bisik Dimas.

Belum sempat jawab, suara langkah pelan kedengaran. Bukan langkah kayu yang berderit. Tapi seperti… kaki yang diseret di lantai.

Sreeet… sreeet…

Raka langsung matiin senter.

“Kenapa dimatiin?!” gue panik.

“Gue takut dia tahu kita di sini…”

Dia?

Belum sempat gue nanya siapa “dia”, suara itu berhenti tepat di atas kepala kami.

Diam.

Sunyi.

Lalu…

DUK!

Seperti ada sesuatu yang jatuh keras di lantai atas.

Debu turun dari plafon.




Kami bertiga reflek lari ke pintu. Tapi pintu yang tadi kebuka… sekarang tertutup rapat.

Dimas coba dorong. Nggak bisa.

Padahal tadi nggak ada yang nutup.

Napas mulai nggak beraturan. Jantung serasa mau lompat.

Dan di saat itu…

Bau amis makin kuat.

Senter gue nyala lagi. Cahaya goyang-goyang karena tangan gemetar.

Dan di lantai… ada bekas jejak kaki.

Basah.

Merah.

Jejak itu bukan dari kami. Karena arahnya… dari tangga turun ke ruang tengah.

Perlahan, jejak itu muncul satu per satu.

Seolah ada yang lagi jalan… tapi nggak kelihatan.

Sreeet…

Sreeet…

Suara gesekan kaki itu sekarang ada di ruangan yang sama.


Raka tiba-tiba teriak, “ITU APA?!”

Gue sorot senter ke dinding.

Dan di situ… ada bayangan.

Bayangan orang.

Tapi nggak ada orangnya.

Bayangan itu tinggi, kurus, dan kepalanya miring nggak wajar. Kayak lehernya patah.

Bayangan itu gerak.

Pelan.

Mendekat.

Padahal dindingnya kosong.

Dimas mulai nangis. Beneran nangis.

“Gue mau pulang… gue mau pulang…”

Bayangan itu berhenti tepat di depan kami.

Lalu suara keluar.

Suara perempuan.

Serak. Pelan. Tapi jelas.

“Kenapa… kalian masuk rumahku…”


Senter mati.

Total gelap.

Gue cuma bisa dengar napas kami bertiga yang kacau.

Lalu terasa… ada yang berdiri sangat dekat. Dekat banget. Sampai gue bisa ngerasain hawa dinginnya nempel di muka.

Dan bau tanah basah itu sekarang… seperti tepat di depan hidung.

Tiba-tiba Dimas jatuh.

Bruk!

“DIMAS!”

Dia teriak histeris, “Ada yang pegang kaki gue!”

Gue dan Raka narik dia. Tapi rasanya seperti ada yang narik dari bawah.

Tarik-menarik di lantai rumah tua yang gelap total.

Dan di tengah kekacauan itu… suara perempuan itu ketawa.

Pelan.

Dekat.

Persis di telinga gue.


Entah gimana, pintu depan mendadak kebuka keras.

Angin masuk.

Kami langsung lari tanpa nengok belakang.

Lari sekuat tenaga sampai keluar dari jalan tanah merah itu.

Begitu sampai warung, warga udah kumpul. Katanya, mereka dengar teriakan.

Dimas pingsan.

Dan yang bikin kami semua merinding…

Telapak kaki Dimas.

Merah.

Berlumpur.

Padahal dia pakai sepatu dari rumah.


Besok paginya, warga cerita.

Dulu, yang punya rumah itu seorang perempuan yang hidup sendirian. Suaminya meninggal misterius. Katanya dikubur di halaman belakang.

Sejak itu, perempuan itu sering kelihatan ngomong sendiri. Sampai suatu hari dia ditemukan mati di dalam rumah.

Lehernya patah.

Dan tubuhnya setengah terkubur di lumpur merah halaman depan.

Sejak saat itu, setiap malam, warga sering lihat bayangan di dinding rumah itu… walau nggak ada orangnya.


Kami bertiga sepakat nggak pernah balik lagi ke sana.

Tapi cerita belum selesai.

Seminggu setelah kejadian itu, Dimas mulai berubah.

Dia sering bengong. Tatapannya kosong.

Dan yang bikin kami merinding…

Setiap habis magrib, telapak kakinya selalu kotor lumpur merah.

Padahal dia nggak keluar rumah.

Suatu malam, gue nginep di rumahnya buat jagain.

Jam 12 tepat.

Dimas bangun.

Berdiri.

Dan jalan keluar rumah… pelan.

Dengan cara jalan yang diseret.

Sreeet…

Sreeet…

Persis seperti suara di Rumah Tanah Merah.

Dan di situ gue sadar.

Mungkin…

Malam itu…

Kami nggak cuma pulang bertiga.

LihatTutupKomentar