Kalau ngomongin tempat angker di Indonesia, nama Gunung Salak tuh sering banget nongol di obrolan para pendaki. Bukan cuma karena medannya yang bikin dengkul goyang, tapi juga karena cerita-cerita ganjil yang nempel kayak kabut sore. Warga sekitar nyebut satu sosok misterius dengan nama: Penunggu Senja.
Cerita ini gue dapet dari Arga, temen lama yang doyan naik gunung sendirian. Katanya, pengalaman paling bikin bulu kuduk berdiri justru terjadi pas dia ngerasa paling siap.
Awal Pendakian yang Terlalu Tenang
Arga mulai naik dari basecamp siang hari. Cuaca cakep, langit biru, burung masih nyanyi. Jalur juga jelas. Nggak ada tanda-tanda aneh. Sampai akhirnya, menjelang magrib, kabut turun pelan-pelan. Bukan kabut biasa—tebel, dingin, dan bikin jarak pandang tinggal beberapa meter.
Dia mutusin buat buka tenda di area datar yang katanya aman. Kompor nyala, mie instan matang, semuanya normal. Terlalu normal.
Sampai dia denger suara.
“Grek… grek…”
Kayak ada yang jalan di atas daun kering. Pelan. Ngitari tenda.
Arga mikir itu mungkin musang atau hewan hutan. Tapi suara itu konsisten. Muter. Nggak pergi-pergi.
Langkah Tanpa Bayangan
Beberapa menit kemudian, suara itu berhenti tepat di belakang tenda. Diam.
Arga nahan napas.
Lalu terdengar langkah lagi… tapi kali ini di sisi lain.
Padahal jelas, suara pertama belum menjauh.
Dua langkah. Dua arah. Ngelilingin tenda.
Arga buka sedikit resleting tenda, niatnya mau ngintip. Tapi yang dia lihat cuma kabut tebel. Nggak ada bayangan. Nggak ada siluet. Nggak ada apa-apa.
Tapi suara langkahnya jelas.
Panggilan yang Bukan Milik Siapa-siapa
Beberapa saat kemudian, dia denger suara lirih.
“Ga…”
Pelan banget.
Arga mikir halu. Dia diem.
“Ar…ga…”
Jelas. Nyebut namanya.
Suara itu bukan suara laki, bukan suara cewek. Tipis, serak, dan jauh… tapi berasa di telinga.
Di situ, Arga mulai sadar: ini bukan hewan.
Wajah di Balik Kabut
Karena penasaran campur takut, Arga nekat buka tenda lebih lebar.
Dan di antara kabut, sekitar 10 meter dari tenda, dia lihat sesuatu berdiri.
Tinggi. Kurus. Diam.
Nggak gerak.
Nggak jelas mukanya.
Tapi bentuknya… manusia.
Yang bikin ngeri, sosok itu nggak punya bayangan, padahal api kompor masih nyala terang di depan tenda.
Arga langsung nutup tenda. Tangannya gemeter.
Malam yang Terlalu Panjang
Malam itu, suara langkah makin sering. Kadang cepat, kadang pelan. Kadang jauh, kadang persis di samping kepala.
Setiap Arga hampir ketiduran, suara itu muncul lagi.
Sekitar jam 2 pagi, tenda digoyang pelan dari luar.
Bukan angin. Karena cuma satu sisi yang gerak.
Arga cuma bisa baca doa, ngeringkuk di sleeping bag, nunggu pagi datang.
Pagi yang Membingungkan
Begitu matahari naik, kabut hilang. Hutan balik normal. Burung bunyi lagi. Arga buka tenda pelan-pelan.
Nggak ada siapa-siapa.
Tapi di tanah sekitar tenda, ada bekas jejak kaki.
Banyak.
Muterin tendanya semalaman.
Yang bikin makin serem: jejak itu nggak punya arah datang atau pergi. Kayak muncul tiba-tiba di situ.
Arga turun gunung hari itu juga.
Penjelasan Warga: Penunggu Senja
Pas cerita ke warga basecamp, seorang bapak tua cuma ngangguk pelan.
“Mas ketemu Penunggu Senja.”
Katanya, sosok itu sering muncul pas magrib ke atas. Nggak ganggu fisik, tapi bikin orang takut setengah mati. Dia suka muterin tenda pendaki, manggil nama, dan berdiri di kabut.
Banyak pendaki ngalamin. Jarang yang berani cerita.
Ciri utamanya selalu sama: muncul saat senja, hilang saat pagi.
Kenapa Disebut Penunggu Senja?
Karena hampir semua kejadian aneh di jalur itu selalu dimulai ketika matahari turun dan kabut naik. Seolah-olah ada “sesuatu” yang bangun saat cahaya menghilang.
Dan yang bikin merinding: sosok itu sering tahu nama pendaki yang datang sendirian.
Nggak ada yang tahu dia siapa. Nggak ada yang pernah lihat jelas mukanya.
Tapi banyak yang dengar langkahnya.
Pesan yang Bikin Merinding
Sebelum Arga pulang, bapak tua itu bilang satu kalimat yang bikin dia nggak bisa lupa:
“Kalau nanti naik lagi, jangan pernah jawab kalau ada yang manggil nama saat kabut turun.”
Arga nanya, “Kalau dijawab kenapa, Pak?”
Bapaknya cuma senyum tipis.