Di sebuah sudut Indonesia yang nggak terlalu ramai disorot kamera, ada satu cerita yang sering cuma dibisikkan pelan-pelan kalau malam sudah larut. Orang-orang lokal nyebutnya “Jalur Sepi Tiga Tikungan”, tapi anak-anak muda lebih suka bilang: jalur yang kalau lo lewat sendirian, jangan banyak omong sama angin.
Awalnya cuma jalan biasa. Penghubung desa kecil ke kota kecamatan. Tapi entah sejak kapan, jalur itu punya reputasi aneh—lampu jalan sering mati, sinyal HP suka hilang tiba-tiba, dan jam tertentu, udara di situ terasa “berbeda”. Bukan dingin, bukan panas… tapi kayak ada sesuatu yang ikut napas di belakang lo.
Cerita ini dimulai dari seorang pemuda bernama Raka. Anak rantau yang pulang kampung karena libur kerja. Dia tipe orang yang gak gampang percaya hal mistis. Buat dia, semua cerita hantu itu cuma sugesti orang kampung yang kebanyakan nonton TV.
Sampai malam itu datang.
Raka lagi nongkrong di warung kopi pinggir jalan. Jam udah lewat tengah malam. Temennya pada pulang satu-satu. Tinggal dia sama motor bututnya. Karena males muter jauh, dia milih lewat Jalur Sepi Tiga Tikungan itu.
“Ah santai aja, paling juga cuma gelap doang,” gumamnya sambil nyalain motor.
Tikungan pertama masih aman. Hening. Cuma suara jangkrik dan angin yang lewat di pepohonan. Tikungan kedua mulai agak aneh—lampu motor tiba-tiba redup sendiri, padahal bensin masih full.
Raka mulai ngerasa gak enak, tapi masih maksa lanjut.
Nah, pas masuk tikungan ketiga, di situlah semuanya berubah.
Di depan, dia ngeliat seseorang berdiri di pinggir jalan. Perempuan. Pakai baju putih panjang. Rambutnya nutupin muka. Diam aja, gak gerak.
Raka ngerem mendadak.
“Permisi, Mbak? Nunggu jemputan?” tanya dia setengah ragu.
Gak ada jawaban.
Angin tiba-tiba berhenti. Suara jangkrik juga hilang. Yang ada cuma sunyi yang terlalu “padat”.
Raka ngerasa merinding. Tapi anehnya, dia kayak gak bisa langsung putar balik. Motor malah mati sendiri.
“Wah, jangan-jangan aki nih…” pikirnya panik.
Dia turun, coba starter lagi. Nihil. Pas dia nengok ke arah perempuan tadi…
…udah gak ada.
Kosong.
Tapi suasana malah makin berat. Kayak ada yang berdiri tepat di belakangnya.
Pelan-pelan, suara langkah kaki kecil kedengeran. “tap… tap… tap…”
Raka gak berani nengok langsung. Keringat dingin mulai netes. Tangannya gemeteran pegang kunci motor.
Tiba-tiba…
“Mas…”
Suara itu halus banget, tapi jelas banget di kupingnya.
Raka akhirnya nengok.
Kosong.
Tapi sekarang, dia sadar satu hal yang bikin dadanya mau meledak: motor yang tadi dia pegang, kuncinya sudah jatuh ke tanah. Padahal dia yakin banget tadi masih di tangan.
Dan di spion motor…
ada pantulan perempuan itu, berdiri tepat di belakangnya.
Raka langsung lompat mundur.
Begitu dia nengok langsung ke belakang, gak ada siapa-siapa.
Tapi spion masih nunjukin sosok itu.
Senyumnya sekarang kelihatan.
Bukan senyum manusia normal. Lebar, tapi terlalu “diam”.
Raka akhirnya lari. Motor ditinggal. Dia lari tanpa arah, cuma ngikutin insting. Aneh banget, tiap dia lari, jalan itu kayak gak ada ujung. Tikungan ketiga terus berulang.
Sampai akhirnya dia jatuh.
Pas dia bangun lagi, pagi udah datang.
Dia ada di depan warung kopi yang sama.
Motor ada di sebelahnya. Hidup. Normal.
Orang-orang sekitar bilang dia ketiduran di pinggir jalan.
Tapi Raka tahu, itu bukan mimpi.
Karena di kaca spion motornya… masih ada satu sidik jari basah, nempel dari dalam.
Sejak kejadian itu, Raka gak pernah lagi lewat jalur itu. Bahkan kalau harus muter jauh pun dia rela.
Dan warga sekitar? Mereka cuma senyum kalau ditanya soal Jalur Sepi Tiga Tikungan.
“Kalau kamu masih bisa balik dari sana… berarti kamu belum sepenuhnya dipilih.”
Sampai sekarang, cerita itu masih hidup. Berganti-ganti versi, tapi intinya sama: ada jalan yang bukan cuma dilalui manusia… tapi juga memilih siapa yang boleh keluar.
Dan kalau suatu malam kamu kebetulan lewat jalan sepi di Indonesia, dan lampu tiba-tiba redup tanpa alasan…
jangan berhenti terlalu lama.
Siapa tahu, kamu bukan lagi pengendara.