Kos Tiga Kamar Tanpa Penghuni


Di tengah kota pelabuhan Indonesia yang ramai siang hari tapi berubah sunyi aneh saat malam, ada satu bangunan tua yang udah lama jadi bahan omongan anak-anak rantau: Kos Melati 13. Bangunannya nggak besar, catnya kusam, dan pagar besinya selalu bunyi sendiri kalau kena angin. Tapi yang paling bikin orang enggan adalah satu fakta sederhana—dari enam kamar yang ada, cuma tiga yang katanya “boleh ditempati”.

Tiga kamar lainnya? Selalu kosong. Selalu terkunci. Dan nggak pernah ada yang berhasil tinggal lama di situ.

Anak baru bernama Raka datang ke kota itu buat kerja. Dia tipe orang yang realistis, nggak gampang percaya hal mistis. Buat dia, kos murah di tengah kota pelabuhan itu udah rezeki besar. Jadi tanpa pikir panjang, dia ambil kamar nomor 4—yang sebenarnya termasuk “zona terlarang” menurut penghuni lama.

Waktu penjaga kos ngasih kunci, nenek itu cuma bilang pelan,

“Kalau dengar suara malam-malam… jangan dibalas.”

Raka cuma ketawa kecil. “Suara apa, Bu? Tikus?”

Nenek itu nggak jawab. Cuma nunduk, terus pergi pelan sambil nyeret sandal.

Hari pertama, semuanya normal. Siang panas, malam agak lembap, suara kapal dari pelabuhan jadi latar belakang hidup Raka. Dia pikir cerita kos angker itu cuma bumbu drama anak kos lama yang gabut.

Sampai malam ketiga.

Jam menunjukkan 01.13 dini hari. Raka lagi main HP sambil rebahan, sampai dia denger suara dari luar kamar.

Tok… tok… tok…

Pelan.

Raka berhenti scrolling. “Siapa?”

Nggak ada jawaban.

Dia buka pintu sedikit. Lorong kos gelap, cuma ada lampu redup ujung koridor. Nggak ada siapa-siapa.

Dia tutup lagi pintu. “Mungkin salah kamar.”

Tapi baru aja dia balik ke kasur…

Tok… tok… tok…

Kali ini dari dalam lemari.

Raka langsung duduk. Jantungnya mulai agak naik, tapi dia masih berusaha logis. “Oke, mungkin lemari tua, kayu ngembang.”

Dia buka lemari pelan-pelan.

Kosong.

Cuma ada baju dan tasnya.

Dia ketawa kecil buat nenangin diri. “Goblok, gue ketakutan sendiri.”

Dia tidur lagi.

Tapi jam 03.00 tepat, dia kebangun sendiri.

Bukan karena alarm.

Tapi karena suara orang mandi.

Dari kamar mandi dalam kamarnya.

Sssshhh… air mengalir.

Raka duduk langsung. Dia tinggal sendiri. Nggak ada roommate. Nggak ada siapa pun.

Dia pelan-pelan jalan ke kamar mandi, tangan dingin, napas mulai nggak stabil.

“Siapa di dalam?” suaranya agak serak.

Air berhenti.

Sunyi.

Tapi dari dalam kamar mandi, ada suara cewek pelan banget…

“Kenapa baru sekarang kamu denger…”

Raka langsung mundur.

BRAK!

Dia tutup pintu kamar mandi keras-keras. Dia ambil HP, mau nelpon penjaga kos, tapi sinyal tiba-tiba hilang.

Dan di detik itu juga…

Semua lampu mati.

Gelap total.

Dalam gelap itu, Raka mulai denger suara langkah… dari dalam kamarnya sendiri.

KLEK… KLEK… KLEK…

Kayak sepatu basah di lantai.

Raka mundur ke sudut kamar. Nafasnya nggak karuan.

“Siapa pun lo, jangan ganggu gue…” katanya setengah berani, setengah panik.

Lalu suara itu berhenti tepat di depan dia.

Dan bisikan itu muncul tepat di telinganya.

“Kami bukan ganggu…”

“Ini kamar kami dari dulu.”

Lampu tiba-tiba nyala lagi.

Kosong.

Nggak ada siapa-siapa.

Tapi Raka lihat satu hal yang bikin seluruh tubuhnya kaku.

Di dinding kamarnya, ada tulisan basah seperti baru ditulis:

“KAMAR INI SUDAH PENUH.”

Sejak malam itu, Raka berubah. Dia nggak pernah tidur nyenyak lagi. Setiap malam selalu ada suara yang berbeda—kadang ketukan, kadang tangisan pelan, kadang suara orang lagi ngobrol di sudut kamar padahal dia sendirian.

Yang paling parah, dia mulai sadar satu hal aneh…

Cermin di kamarnya nggak selalu ngikutin gerakannya.

Kadang, pantulannya telat.

Kadang… senyum sendiri.

Sampai suatu malam, Raka nekat tanya ke penjaga kos.

“Bu, kamar ini dulu pernah ada yang tinggal, ya?”

Nenek itu berhenti lama. Wajahnya pucat.

“Dulu… ada tiga orang.”

“Semua nggak pernah keluar dari kamar itu.”

Raka diam.

Nenek itu lanjut pelan,

“Makanya cuma tiga kamar yang dianggap aman.”

Raka langsung sadar sesuatu.

Dia tinggal di kamar keempat.

Kamar yang… tidak pernah dihitung.

Malam itu, Raka nggak pulang ke kos. Dia kabur. Tinggalin semua barangnya.

Tapi cerita belum selesai.

Karena dua minggu setelah dia pergi, kamar nomor 4 akhirnya disewakan lagi.

Penghuni barunya seorang mahasiswa.

Dan malam pertama dia pindah…

Dia ketuk pintu kamar sebelah.

Tok… tok… tok…

Dan dari dalam kamar kosong itu, ada suara balik pelan banget.

Kenapa baru sekarang kamu datang…

LihatTutupKomentar