Tidak ada yang tahu pasti siapa pemilik rumah itu. Yang jelas, sejak satu keluarga ditemukan tewas secara misterius dua puluh tahun lalu, rumah tersebut dikunci rapat dan dibiarkan lapuk dimakan waktu. Anehnya, pintu ketiga di rumah itu—sebuah pintu kecil di bagian belakang—tidak pernah bisa dikunci, meski sudah dipaku dan dirantai berkali-kali.
Cerita ini bermula ketika Dimas, seorang mahasiswa arsitektur, memutuskan meneliti rumah tersebut untuk tugas akhir. Ia tertarik pada struktur bangunan kolonial yang masih utuh meski terbengkalai. Peringatan warga hanya dianggapnya sebagai cerita lama yang dilebih-lebihkan. Dengan kamera, senter, dan buku catatan, Dimas masuk ke rumah itu pada suatu sore menjelang magrib.
Bagian depan rumah terasa biasa saja—berdebu, gelap, dan berbau kayu lapuk. Namun suasana berubah saat ia melangkah ke lorong tengah. Udara menjadi dingin secara tiba-tiba, dan suara jam dinding tua terdengar berdetak, padahal tak ada satu pun jam tergantung di sana. Dimas menelan ludah, tapi rasa penasarannya lebih kuat dari ketakutan.
Saat melangkah lebih dalam, ia menemukan tiga pintu sejajar di ujung lorong. Dua pintu tertutup rapat, sementara pintu ketiga terbuka sedikit. Dari celah pintu itu, tercium bau anyir bercampur tanah basah. Tanpa sadar, Dimas merasa dadanya sesak, seolah ada sesuatu yang mengawasinya dari balik pintu tersebut.
Ia memilih membuka pintu pertama dan kedua. Keduanya hanya berisi ruangan kosong. Namun ketika ia berdiri di depan pintu ketiga, senter di tangannya berkedip lalu mati. Dalam gelap, terdengar suara napas berat, sangat dekat dengan telinganya.
“Jangan buka… kalau belum siap menggantikan,” suara itu berbisik lirih.
Dimas mundur ketakutan, menyalakan kembali senternya dengan tangan gemetar. Entah mengapa, dorongan aneh membuatnya tetap membuka pintu itu. Di dalamnya, terdapat sebuah ruangan sempit dengan dinding hitam penuh goresan seperti bekas kuku. Di tengah ruangan, tergantung sebuah cermin besar yang retak, dan di bawahnya terdapat bercak darah kering membentuk pola melingkar.
Saat Dimas menatap cermin itu, pantulannya bergerak terlambat sepersekian detik. Bayangannya tersenyum, padahal ia tidak. Perlahan, bayangan itu mengangkat tangannya sendiri dan mengetuk permukaan cermin dari dalam.
Tiba-tiba pintu tertutup dengan keras. Lampu senter mati total. Dalam kegelapan, Dimas mendengar suara tangisan bercampur tawa, suara banyak orang sekaligus. Lantai terasa basah, lengket, dan dingin. Ia mencoba membuka pintu, namun gagang pintu terasa panas seperti besi terbakar.
Cermin itu mulai retak lebih besar, dan dari dalamnya muncul wajah-wajah pucat dengan mata kosong. Salah satu wajah itu sangat jelas—seorang perempuan dengan leher terbelit kain merah. Bibirnya bergerak pelan.
“Kami butuh satu lagi.”
Keesokan paginya, warga desa menemukan pintu ketiga rumah itu tertutup rapat. Namun di depan rumah, tergeletak tas milik Dimas, berisi kamera dan buku catatannya. Tidak ada jejak keberadaannya. Polisi melakukan pencarian selama berhari-hari, tetapi tidak menemukan apa pun selain bekas goresan baru di dinding rumah.
Beberapa hari kemudian, kamera Dimas diperiksa. Rekaman terakhir memperlihatkan dirinya berdiri di depan cermin, tersenyum kaku, dengan mata yang bukan lagi miliknya. Di akhir video, terdengar suara pintu terkunci dari dalam.
Sejak saat itu, warga bersumpah melihat sesosok pria berdiri di balik jendela rumah pada malam hari. Ia berdiri diam, menatap ke luar, seolah menunggu seseorang membuka pintu ketiga.
Dan hingga kini, pintu itu tetap ada—tidak pernah terkunci, tidak pernah rusak—seakan menanti pengganti berikutnya.