Penunggu Lantai Tujuh Rumah Sakit Tua


 Tidak semua rumah sakit ditinggalkan karena usia.

Sebagian ditinggalkan karena sesuatu yang tak pernah pergi.

Rumah Sakit Sumber Waras berdiri di pinggir kota kecil di Jawa Tengah. Bangunannya tua, catnya mengelupas, dan jendelanya tertutup debu tebal seolah menolak disentuh cahaya. Sejak ditutup dua puluh tahun lalu, tempat itu berubah menjadi bangunan mati—atau setidaknya terlihat mati dari luar.

Namun bagi warga sekitar, rumah sakit itu hidup.

Malam selalu menjadi waktu paling sunyi di sana. Tidak ada kendaraan, tidak ada lampu, hanya suara angin yang menggesek pintu besi berkarat. Tapi kadang, dari lantai atas, terdengar bunyi langkah kaki pelan, seperti seseorang berjalan tanpa alas.



Raka, seorang mahasiswa yang gemar meneliti bangunan terbengkalai, menganggap semua itu hanyalah cerita warisan ketakutan. Bersama dua temannya, Dimas dan Ardi, ia memutuskan masuk ke rumah sakit itu untuk membuat dokumentasi malam hari.

Mereka masuk pukul sebelas malam.

Lorong utama dipenuhi bau lembap dan karat. Kursi roda terbalik, kasur pasien berdebu, dan papan petunjuk yang sudah miring. Senter Raka menyapu dinding, memperlihatkan bekas coretan aneh—simbol-simbol yang tidak ia kenali.

“Katanya lantai tujuh paling parah,” ujar Dimas, suaranya dibuat berani.

Masalahnya, gedung itu hanya tercatat memiliki enam lantai.

Tangga darurat membawa mereka naik. Lantai satu hingga enam tak menunjukkan apa-apa selain kesunyian. Namun saat mereka berdiri di ujung tangga lantai enam, Raka terdiam.

Di depan mereka, ada satu tangga lagi.

Padahal di peta bangunan yang ia pelajari, lantai itu seharusnya tidak ada.

Papan besi di atas tangga bertuliskan angka 7, terukir kasar seolah ditoreh dengan benda tajam. Udara di sekitarnya jauh lebih dingin. Nafas mereka mulai terlihat tipis.

“Harusnya nggak ada ini,” bisik Ardi.

Namun rasa penasaran mengalahkan logika. Mereka melangkah naik.

Lantai tujuh berbeda dari lantai lainnya. Dindingnya masih putih bersih, lampu neon menyala redup, dan lantainya mengkilap seperti baru dipel. Di ujung lorong, terdengar suara monitor jantung berbunyi pelan—tiiit… tiiit…

Padahal, tidak ada listrik.

Pintu-pintu ruangan tertutup rapat. Di salah satu pintu tertulis: RUANG ISOLASI.

Saat Raka mendekat, pintu itu terbuka sendiri.

Di dalam ruangan, ada satu ranjang besi. Di atasnya terbaring sosok perempuan mengenakan baju pasien lama. Rambutnya panjang menutupi wajah, dadanya naik turun pelan seperti orang tidur.

Dimas refleks mundur.

“Mas… kita pergi,” katanya gemetar.

Namun perempuan itu tiba-tiba duduk tegak.

Wajahnya pucat keabu-abuan, matanya hitam pekat tanpa putih. Bibirnya tersenyum, terlalu lebar untuk disebut manusia.

“Kalian… datang menggantikan,” ucapnya lirih.

Lampu berkedip keras. Suhu ruangan turun drastis. Dari lorong, terdengar langkah kaki berlarian—puluhan, ratusan—seperti seluruh rumah sakit kembali beroperasi.

Raka mencoba lari, tapi kakinya terasa berat. Tangannya dingin saat seseorang menyentuh pundaknya.

Ia menoleh.

Di belakangnya berdiri dokter-dokter tanpa wajah, tubuh mereka tembus pandang, membawa alat medis berlumur darah. Mereka bergerak serempak, mengepung.

Perempuan di ranjang tertawa pelan.

“Lantai ini dibangun dari pasien yang dilupakan,” katanya.
“Dan rumah sakit ini… butuh pasien baru.”

Ardi berteriak. Dimas jatuh pingsan. Raka menutup mata, yakin inilah akhir.

Namun tiba-tiba terdengar suara azan samar dari kejauhan.

Semuanya berhenti.

Lampu mati. Lorong gelap. Suara langkah menghilang.

Raka terbangun di halaman rumah sakit saat subuh. Polisi dan warga mengerumuni lokasi. Dimas ditemukan tak sadarkan diri, tapi Ardi tidak pernah ditemukan.

Yang aneh, setelah malam itu, warga bersumpah melihat lampu lantai tujuh menyala setiap malam.

Padahal gedung itu kembali tercatat…
hanya memiliki enam lantai.

Dan hingga kini, tak ada yang berani masuk lagi.

Karena beberapa tempat di Indonesia tidak hanya menyimpan sejarah—
tetapi juga menyimpan yang menunggu.

LihatTutupKomentar