Di banyak daerah di Indonesia, rel kereta api bukan sekadar jalur transportasi. Ia adalah saksi kecelakaan, bunuh diri, dan kematian tragis selama puluhan tahun. Fakta ini tercatat dalam laporan resmi perkeretaapian dan kepolisian. Namun ada hal lain yang tidak pernah masuk berita.
Aku tahu itu karena aku mengalaminya sendiri.
Aku bekerja sebagai petugas malam di salah satu stasiun kecil yang sudah tua. Jalurnya sepi, hanya dilewati beberapa kereta jarak jauh. Di tempat seperti itu, ada satu aturan tak tertulis yang selalu diingatkan senior: jika melihat orang berdiri di tengah rel malam-malam, jangan langsung memanggil.
Awalnya kupikir itu hanya mitos.
Hingga suatu malam, sekitar pukul 02.40, saat hujan rintik turun, aku melihat seorang perempuan berdiri di rel sisi timur. Bajunya putih, panjang, basah menempel di tubuh. Rambutnya hitam, menutupi wajah.
Ia tidak bergerak.
Aku mengambil senter dan berjalan mendekat sambil berteriak, “Mbak! Itu jalur aktif!”
Tidak ada respons.
Jarak kami sekitar sepuluh meter ketika aku mulai merasa ada yang tidak wajar. Perempuan itu berdiri terlalu diam. Tidak bergeser sedikit pun meski hujan makin deras. Dan yang paling aneh—tidak ada suara napas, tidak ada gerakan tubuh.
Aku berhenti.
Senior di pos jaga tiba-tiba muncul dan menarik lenganku keras-keras. Wajahnya pucat.
“Jangan dekat-dekat,” katanya pelan.
“Kenapa?” tanyaku, kesal.
Ia tidak langsung menjawab. Ia hanya menunjuk ke tanah di dekat kakiku.
Aku menunduk.
Tidak ada jejak kaki.
Tanah di sekitar rel basah dan berlumpur, penuh bekas sepatu dan roda. Tapi di tempat perempuan itu berdiri—kosong. Seolah ia tidak menyentuh tanah sama sekali.
Saat aku mengangkat kepala kembali, perempuan itu sudah tidak ada.
Senior membawaku masuk ke pos jaga dan menutup pintu. Tangannya gemetar saat menyalakan rokok.
“Kamu baru di sini,” katanya. “Makanya kamu belum tahu.”
Ia lalu bercerita bahwa lima tahun sebelumnya, seorang perempuan tewas tertabrak kereta di jalur itu. Bunuh diri. Tubuhnya hancur, dan proses evakuasi berlangsung sampai subuh. Sejak saat itu, beberapa petugas malam sering melihat sosok yang sama—selalu menjelang jadwal kereta pertama pagi.
Yang melihat dan memanggilnya, biasanya jatuh sakit berhari-hari.
Aku tidak percaya sepenuhnya, tapi malam itu aku tidak bisa tidur.
Dua minggu berlalu tanpa kejadian.
Hingga suatu malam aku sendirian jaga.
Hujan turun lagi.
Pukul 02.41.
Aku mendengar suara langkah di luar pos. Pelan. Teratur. Seperti orang berjalan di atas batu rel.
Aku mengintip dari jendela.
Perempuan itu berdiri lebih dekat dari sebelumnya. Kali ini wajahnya terlihat jelas.
Kulitnya pucat kebiruan. Matanya terbuka, tapi kosong. Mulutnya sedikit terbuka, seperti ingin bicara.
Aku membeku.
Ia perlahan mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah pos jaga.
“Mas…” katanya lirih. Suaranya seperti terputus-putus.
Aku menutup mata dan membaca doa sekuat yang aku bisa.
Ketika aku membuka mata lagi, ia sudah menghilang.
Namun bau besi—bau darah—tertahan lama di udara.
Keesokan paginya, petugas pagi menemukan sesuatu di rel: sebuah sandal perempuan, tua dan sobek. Model lama.
Senior hanya menghela napas saat melihatnya.
“Itu bukan pertama,” katanya.
Aku mengajukan pindah tugas seminggu kemudian.
Tapi hingga sekarang, setiap aku melewati rel kereta saat malam, aku selalu teringat satu fakta yang tidak pernah ditulis di laporan resmi:
Tidak semua yang tertabrak kereta benar-benar pergi.
Beberapa masih berdiri, menunggu perjalanan terakhir yang tak pernah datang.