Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, Jakarta menyimpan lapisan sejarah yang jarang disentuh oleh cahaya modernitas. Di antara gedung-gedung kolonial yang berdiri bisu di kawasan Kota Tua Jakarta, ada kisah-kisah yang tidak tercatat di papan informasi wisata—kisah tentang mereka yang mati tanpa nama, dan diyakini tak pernah benar-benar pergi.
Kota Tua, yang dahulu dikenal sebagai Batavia, adalah pusat pemerintahan kolonial Belanda sejak abad ke-17. Fakta sejarah mencatat wilayah ini sebagai saksi kekerasan, wabah penyakit, perbudakan, dan eksekusi massal. Ribuan orang—budak, tahanan, hingga warga pribumi—meninggal di area ini tanpa pemakaman layak. Banyak jasad dikubur tergesa-gesa atau dibuang ke sungai terdekat, salah satunya Kali Besar.
Hingga kini, Kali Besar tampak tenang, memantulkan cahaya lampu malam dan bangunan tua di sekitarnya. Namun para pedagang malam, petugas keamanan, dan fotografer jalanan sering menceritakan pengalaman serupa: bayangan berdiri di tepi sungai saat larut malam, diam, tak bergerak, dan menghilang ketika didekati.
Salah satu kejadian paling sering dibicarakan terjadi pada tahun 2014, saat renovasi saluran air di sekitar Kali Besar. Pekerja proyek menemukan tulang belulang manusia di kedalaman dangkal, bercampur dengan pecahan keramik dan besi tua era kolonial. Temuan ini tidak dirahasiakan—bahkan diberitakan singkat di media lokal—dan disimpulkan sebagai sisa pemakaman tua tanpa identitas.
Namun setelah penemuan itu, gangguan mulai dirasakan.
Seorang penjaga malam gedung tua di sekitar kawasan tersebut melaporkan mendengar suara langkah kaki di lorong kosong setiap pukul tiga dini hari. Langkahnya tidak tergesa, tidak pula ragu—seperti seseorang yang sangat mengenal tempat itu. Saat disusuri, lorong selalu kosong. Anehnya, kamera pengawas sempat merekam bayangan tinggi kurus melintas, namun rekaman itu rusak tepat setelah bayangan tersebut berhenti dan menghadap kamera.
Gangguan juga dialami pengunjung. Beberapa wisatawan mengaku mendengar suara air mengalir deras, padahal sungai dalam kondisi tenang. Ada pula yang mencium bau anyir menyengat—perpaduan lumpur, besi berkarat, dan sesuatu yang menyerupai darah—di titik-titik tertentu, terutama setelah hujan malam.
Secara ilmiah, bau tersebut bisa dijelaskan sebagai gas dari endapan organik tua. Namun penjelasan itu tidak menjawab satu fakta lain: bau itu sering muncul bersamaan dengan rasa tertekan, mual, dan perasaan “diawasi” yang dialami banyak orang secara bersamaan.
Seorang sejarawan lokal yang meneliti arsip Batavia menyebutkan bahwa Kali Besar dulunya bukan hanya jalur perdagangan, tetapi juga “tempat pembuangan”. Catatan Belanda mencatat hukuman mati tanpa proses pengadilan formal, terutama saat terjadi pemberontakan atau wabah. Banyak jasad dibuang ke air agar tidak menimbulkan kepanikan.
Masyarakat sekitar percaya, arwah-arwah itu masih terikat di tempat terakhir mereka diingat—atau dilupakan.
Fenomena penampakan wanita berpakaian kolonial juga kerap dilaporkan. Sosoknya sering terlihat berjalan di tepi sungai atau berdiri di jendela gedung tua, mengenakan gaun panjang pucat, wajahnya samar, dan kakinya tidak sepenuhnya menyentuh tanah. Beberapa saksi mengatakan ia menunduk seolah mencari sesuatu, sementara yang lain mendengar isakan pelan, seperti tangisan tertahan.
Menariknya, deskripsi ini konsisten dengan laporan sejak tahun 1980-an, jauh sebelum media sosial membuat kisah horor mudah menyebar.
Pemerintah daerah memang telah melakukan revitalisasi kawasan Kota Tua, menjadikannya destinasi wisata sejarah. Namun revitalisasi tidak menghapus ingatan tanah. Setiap renovasi justru sering memunculkan temuan baru: tulang, rantai besi, hingga ruang bawah tanah yang tidak tercatat di denah lama.
Warga lama memahami satu aturan tak tertulis: jangan bersikap sembarangan setelah matahari terbenam. Jangan tertawa berlebihan, jangan menunjuk sembarang sudut gelap, dan jangan menjawab jika ada yang memanggil dari arah sungai dengan suara yang terdengar terlalu dekat.
Karena di Kota Tua Jakarta, tidak semua yang memanggil adalah manusia. Dan tidak semua yang berdiri di tepi Kali Besar masih termasuk bagian dari dunia yang hidup.
Sejarah boleh dibersihkan, bangunan boleh dicat ulang, tetapi bagi sebagian arwah, Batavia bukan masa lalu. Ia adalah rumah yang tak pernah mereka tinggalkan.