Di sebuah desa terpencil yang dikelilingi hutan jati tua, ada sebuah warung sate kecil yang hanya buka saat malam menjelang dini hari. Warung itu tampak biasa—meja kayu sederhana, tungku arang, dan bau daging bakar yang menggoda. Namun, siapa pun yang pernah mencicipi sate di sana akan merasakan kelezatan yang sulit dijelaskan, seolah ada rasa “nikmat” yang tak wajar. Warga desa menyebutnya dengan satu nama yang berbisik di antara ketakutan: Pesugihan Sate Burung Gagak.
Warung itu milik seorang pria bernama Pak Sastro, pendatang yang tiba di desa bertahun-tahun lalu dalam kondisi miskin. Ia tinggal sendirian di gubuk dekat hutan, jarang bergaul, dan selalu pulang sebelum matahari terbit. Anehnya, sejak membuka warung sate tersebut, hidup Pak Sastro berubah drastis. Uangnya berlimpah, rumahnya membesar, dan warungnya tak pernah sepi pembeli—terutama dari luar desa.
Namun, ada kejanggalan yang tak bisa diabaikan. Pak Sastro hanya berjualan pada malam Jumat Kliwon. Ia juga melarang siapa pun melihat bahan daging yang digunakannya. Setiap tusuk sate selalu sudah matang sempurna, berwarna gelap kemerahan, dengan aroma yang membuat siapa pun lupa diri. Ketika ditanya daging apa yang ia pakai, Pak Sastro hanya tersenyum tipis dan berkata, “Daging keberuntungan.”
Suatu malam, seorang pemuda bernama Raka, mahasiswa yang sedang meneliti budaya lokal, tertarik mengungkap misteri warung tersebut. Ia mendengar rumor bahwa sate itu bukan sate biasa. Konon, bahan utamanya berasal dari burung gagak hitam pekat—burung yang dalam kepercayaan lama dianggap sebagai pembawa pesan alam gaib dan penjaga perjanjian gelap.
Raka memutuskan mengintai warung itu dari balik pepohonan. Tepat tengah malam, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku. Pak Sastro berjalan ke arah hutan sambil membawa karung besar. Dari dalam karung terdengar suara kepakan dan pekikan parau. Di bawah pohon tua yang akarnya menjulur seperti ular, Pak Sastro membuka karung itu. Puluhan burung gagak hitam keluar, tetapi anehnya tidak terbang. Mereka hanya diam, menunduk, seolah pasrah.
Pak Sastro lalu mengucapkan mantra dengan bahasa yang tak dikenal. Tanah bergetar pelan, angin berhenti berhembus, dan dari balik kegelapan muncul sosok tinggi berjubah hitam dengan mata merah menyala. Bau anyir langsung menusuk hidung Raka. Sosok itu adalah penjaga pesugihan, makhluk yang menuntut tumbal dan kesetiaan.
“Perjanjianmu hampir jatuh tempo,” suara makhluk itu menggema tanpa membuka mulut.
Pak Sastro gemetar, lalu menyerahkan burung-burung gagak itu satu per satu. Darah hitam menetes ke tanah, diserap akar pohon yang berdenyut seperti hidup.
Makhluk itu menghilang, dan Pak Sastro kembali ke warung membawa daging yang telah “diberkati”. Raka yang ketakutan berlari pulang, tetapi rasa penasaran mengalahkan nalar. Keesokan harinya, ia kembali sebagai pembeli.
Saat menyantap sate itu, Raka merasakan sensasi aneh. Nikmat, hangat, dan membuat pikirannya kosong. Namun di sela gigitan, ia melihat bayangan burung gagak bertengger di langit-langit warung, menatapnya dengan mata kosong. Suara parau berbisik di telinganya, “Balasan akan datang.”
Beberapa hari kemudian, desa diguncang kejadian mengerikan. Pak Sastro ditemukan meninggal di warungnya, tubuhnya menghitam, dan mulutnya dipenuhi bulu gagak. Warung sate itu terbakar tanpa sebab, menyisakan bau gosong yang tak pernah hilang. Sejak saat itu, setiap malam Jumat Kliwon, warga mendengar suara tusukan sate dan kepakan sayap dari arah hutan.
Raka meninggalkan desa itu, tetapi trauma tak pernah benar-benar pergi. Setiap kali mencium aroma sate bakar di malam hari, ia melihat bayangan gagak di ujung pandangan. Ia sadar satu hal: kekayaan yang diperoleh dari perjanjian gelap selalu menuntut harga, dan harga itu sering kali lebih mahal dari nyawa.
Hingga kini, tak ada yang berani membuka usaha sate di desa tersebut. Orang-orang percaya, pesugihan itu belum benar-benar berakhir. Penjaganya hanya menunggu manusia serakah berikutnya—yang berani menukar nurani dengan kekayaan, dan daging burung gagak dengan jiwa sendiri.